Kamis, 27 Desember 2012

Mimpi Bulan Desember

I'm a dreamer
Dalam keremangan kamar
Tertimpa cahaya bulan separo
Di atas atap
Bertabur manik-manik bintang
Di bawah atap
Tercipta episode-episode mimpi
Kembali mencintaiku, katamu
Melengos pergi
Berbalik memeluk hati
Ada fajar yang segera tiba
Aku harus bangun

Sabtu, 22 Desember 2012

Bebas

Langitku
Aku ingin bebas
Bebas dengan caraku
Aku ingin terbang
Menyambung nyawa semauku
Bernyanyi riang di bumiku
Terbang sejauh apapun dan sampai kapanpun
Hinggapun aku mati
Dengan cara terindahku
Memeluk bumiku

Selasa, 18 Desember 2012

Sejauh Apapun


Sejauh apapun aku berlari
Sedalam apapun aku menyelam
Sekuat apapun aku melawan
Sebesar apapun aku bersabar
Aku tetap dikejar
Aku tetap ditarik
Aku tetap ditahan
Aku tetap diusik
 Aku sendiri tak tahu bagaimana mengakhirinya
Aku sendiri tak kuat menahan
Karena...
Seperti apapun aku berusaha
Aku tetap rindu

Sabtu, 17 November 2012

Segaris Luka Panjang


Untuk segaris luka itu
Tak cukup membuatku jera
Bisakah aku mengalun?
Mengalun sendu dengan suara kerongkonganku
Mungkin..
Aku ingin lepas
Lepas bahagia
Hingga bersiul dipagi ku menginjak usia

Senin, 15 Oktober 2012

Masih Dihantui Waktu


Belum bisa aku leluasa berjalan
Aku masih sakit dimakan waktu terlantar
Tapi aku ingin segera berlari
Pun berlari kecil tapi dalam genggaman

Ingin Jingga


Aku ingin segera menjingga
Bermain-main berkejaran hingga habis dimakan senja
Mungkin aku bahagia dipeluk hujan raksasa
Kemana? Aku buta

Rabu, 15 Agustus 2012

Nisan Nenek

Alm. Sa'amah Kadir




Rindu ini harus dituntaskan
Tetapi aku tak mau dengan jilbab awut-awutan/ Kamis ini aku ditanah rencong mencari kuburan
Tempat dimana jiwa dalam kehidupan ku terkubur bertahan
Aku rindu si nenek yang punya senyum menyejukkan

Nisan

Alm. Sa'amah Kadir


Kamis itu ia disamping nisan
Duduk menatap sebuah nama yang lekat-lekat begitu terkenal dalam hidupnya
Ia kaku menitik air mata
Membasahi tebing pipinya
Mengenang masa kecil bersama sang nenek
Di samping nisan itu,
Ia memeluk neneknya dengan cara yang berbeda

Sabtu, 21 Juli 2012

Hujan Bulan Ini

Hujan bulan ini..
Jangan datang-datang lagi
Aku sudah patah kaki dan hati
Tak mampu menyangga kaki lagi
Terlalu pengecut melangkah jauh lagi
Disini saja kembali
Dekat-dekat sini
Kau tahu semua cerita kami?
Aku sudah memahami
Bagaimana ketika itu kami akan mati
Bertemu kemudian pergi
Sudah berhenti..
Hujan, jangan kau beradu air mata denganku lagi
Angin, jangan kau memeluk ku, menampar-nampar rambut dan jilbabku lagi
Tidak!
Tidak untuk walaupun rindu nanti
Pun ketika aku memanggil-manggil namanya lagi
Tapi tetap hati-hati
Jika sekarang benar aku masih menanti
Aku masih mencintai roti
Tak mungkin menyatu lagi
Aku sudah patah kaki dan hati
Pergilah..Jangan kembali lagi

Rabu, 18 Juli 2012

Senin

Senin...
Matamu menatapku lurus dingin
Mencoba membaca pikiranku dengan angin
Selama kau menatap ku, aku lari pada arah mata angin
Kau tahu apa yang ku ingin?
Aku padamu walau dalam wujud yang tak kau ingin, selalu begini rutin

Subuh, pagi, siang, senja, malam

Subuh...
Dalam sujud aku merengkuh do'a untuk rasa yang ku ingin utuh

Pagi...
Membuka tirai jendela
Mentatap mentari berseri
Apa kau disana sedang berdiri?
Berdua dengan dia lagi?
Atau sendiri?

Siang...
Tiba-tiba saja aku meriang
Padahal hujan tidak riang
Kau juga senang hujan kan? tempat kita mengirim rindu sayang
Sedang hujan tak juga datang
Aku berang

Senja...
Lihat langit mulai merangkak jingga
Malu merona
Mana warna yang kau sebut cinta dan setia?

Malam...
Tatap aku dalam-dalam
Detik ini air mata tak terpendam
Dulu, sekarang, mungkin akan datang, aku tetap memendam
Kau paham?

Senin, 02 Juli 2012

Kalian Berdua, Aku Satu


Kalian berdua
Aku satu tak mengapa
Kalian bersama
Aku sendiri membatu tak mengapa
Pernah kau dengar sepucuk surat menghampirimu?
Angin yang ku buatkan untukmu
Bersama hujan menghampirimu
Mengirim surat rindu yang ku titipkan lewat hujan
Melayangkan sejuta perasaan yang terasa
Pernah kau tanyakan aku?
Adakah aku padamu?
Melihat, memandang
Kebersamaan yang dulu kau buatkan untukku
Kalian menyatu
Aku sendiri terpaku

Senin, 14 Mei 2012

"Hujan Bulan Juni" - Sapardi Djoko Damono, 1989

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu dijalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon itu

-"Hujan Bulan Juni,"
Sapardi Djoko Damono, 1989.

Minggu, 13 Mei 2012

Tidurlah...


Dengan balutan air dingin
Kasur dalam jarum-jarum terjal
Pada asa yang hampir patah
Lolongan malam pada sebongkah do'a
Pada Tuhan
Menitip seseorang
Yang dalam tidur ingin kurengkuh
Yang dalam malam ingin kubawa
Yang dalam mimpi ingin kuhanyutkan
Pada sungai khayalan
Tergenang tenang air berderu cepat
Mengalir tenang kenangan indah
Dalam ia merasa sakit
Dalam ia mengadu lesu
Tangan putih mengusuk keningnya pelan
Tangan putih menggenggam erat
Tanganku... Tangan putihku
Dalam ia terjaga tenang
Ku bisikkan suara yang belum pernah ia dengar

Rabu, 28 Maret 2012

Malam-malam

Aku berdiri dalam malam
Di persimpangan jalan
Lampu toko warna-warni diseberang itu
membuat mataku perih
aku membuang pandangan
jauh kejalan kosong yang ku layangkan ntah kemana
menuju lorong-lorong perumahan
meliuk-liuk mencara-cari si pria
angin merangkul ku dengan mesra
aku bertanya pada angin:
"Bagaimana jika aku bertemu dengannya?"
bisikan mesra angin menggerakkan liar daun telinga kanan ku, berkata:
"Pegang tangannya."

Minggu, 18 Maret 2012

Menggenggam Namamu

Aku berdiri ditengah derasnya hujan
Bergerumul dalam hujan
Aku merentangkan hati
Menggigil pun tak ku rasa
Aku merasa damai dalam irama hujan
Menari berdansa dengan hembusan angin beku membuat hari bertambah kaku
Dingin ku rasa di hati karena hujan, tapi tidak dengan tubuh mungil ku ini
Air mata beradu dalam hujan
Jatuh bergemericik tak bersuara ke jalan setapak
Dalam lirih, aku memanggil namanya "Agung.."
Mengucap satu kata yang menjadi nama
Aku mengelu-elu kan namanya di tengah riuhnya hujan
Namun langit bergemuruh kuat
Aku bergetar..
Langit marah, aku takut
Disitu pun aku merasa langit tengah cemburu dengan ku
Aku bersikukuh
Aku memandang sekeliling, kabur
Yang tampak hanya cahaya kilat di langit abu-abu
Aku melenguh, menggenggam erat namanya untuk ku bawa pulang
Membatin, memanggil namanya pelan
Berharap ia mengenalku dalam suara hujan,
Bahwa aku lah perempuan yang tengah berucap pelan mengundang namanya disini,
Menari berdansa dalam irama hujan
Aku dan namanya, menyatu dalam seruan hujan malam
Meski jiwanya tidak disini,
Namun aku tahu dia ada walau dalam wujud rasa
Rasa yang disebut cinta