![]() |
| Bercerita panjang lebar |
Dihadapan ku duduk seorang anak manusia yang sedang menggenggam erat tisunya, matanya basah. Aku selalu memanggilnya dengan sebutan sayang, "kiteng". Ya sudah jelas ditebak yang khas darinya adalah rambut keritingnya. Bukan, dia bukan laki-laki. Dia sama seperti ku, seseorang yang mempunyai perasaan yang begitu lembut, seseorang yang suatu saat nanti akan dipanggil "Ibu", seorang gadis perempuan. Dia sudah menjadi gadis, bukan lagi anak-anak. Hidupnya dipenuhi cinta dan tantangan hidup seperti di film-film drama yang sering kau tonton sampai terbayang-bayang di channel televisi kesayanganmu. Apa tadi? Matanya basah? Oh iya, aku sampai menghitung helai-helai tissuenya. Luar biasa sahabatku ini.
Sedang dia menangis, aku terus menyeruput cappucino di gelas kaca itu. Tadinya aku datang terlambat, ada urusan yang harus kukejar. Pintar sekali dia memilih tempat duduk di pojokan dekat balkon, sudah larut malam, hanya orang-orang yang sedang menghabiskan sepi atau sedang menikmati malam yang datang jam segini. Kami termasuk pelanggan yang sedang menikmati sepi. Sebelum aku sempat meletakkan tas rumbai-rumbai cokelatku di samping kursi rotan itu dan duduk dengan manis, dia sudah menghabiskan sebungkus tissue hanya untuk mengelap air matanya yang berjatuhan melewati pipi gendutnya. Yang kupikirkan pertama kali saat datang melihat keadaannya adalah bagaimana air matanya bisa sebanyak itu jatuh sedangkan aku tak bisa-bisa menangis sejak kemarin? Ya Tuhan jatuhkan air mataku juga, segera!
"Aku harus apa? Aku bisa apa?" tatapan nanarnya dileparkan ke arahku.
"Hmm..." aku tak tahu harus menjawab apa, aku hanya memperbaiki posisi dudukku.
Aku sudah tahu bagaimana kisah cintanya sejak awal hingga saat ini, aku mengerti, sangat mengerti. Bukan hanya sebagai seorang sahabat, bukan hanya sebagai seorang perempuan, tetapi aku pernah merasakan menghabiskan tissue berhelai-helai hanya untuk mengelap air mataku yang jatuh demi seseorang yang sangat berarti di hidupku. Dasar perempuan, kalau tidak uring-uringan, ya menangis sejadi-jadinya sampai tertidur.
"Jangan sampai Tuhan menegurmu dengan keras kepalamu itu." Sinisku.
"Aku harus bagaimana?" Kali ini air matanya mengalir di kedua matanya. Aku membiarkannya menangis malam ini, mungkin dengan tangisan hatinya akan lega.
"Aku mau bertanya..." Air matanya sudah surut.
"Tanya apa?" Kataku.
"Bagaimana kamu bisa berhenti menangis?" Dia menggeberak meja pelan.
Pandanganku lari ke arah jalanan, seakan-akan aku meminta izin kepada angin untuk menjawab pertanyaan sahabatku ini. Lalu segaris senyum tipis tertarik di sudut bibirku, senyum sinis sambil memainkan ligkaran gelas cappucino ku.
"Bagaimana aku bisa berhenti menangis? Entahlah, aku tak pernah tahu bagaimana bisa. Aku tak lagi menangisinya walau aku ingin" Aku menyeruput cappucino ku lagi, aku haus.
"Hhhhh..." Ia mulai menunduk lagi, aku tebak air matanya akan jatuh lagi.
"Menangislah. Aku akan menemani tangisanmu malam ini. Aku pesan satu gelas cappucino lagi, ya. Minumku habis." Mataku mencari pramusaji di dekat kasir, ah aku haus sekali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar