Senin, 17 Agustus 2015

Kertas Rahasia

Kertas dari Siapa?

Buku bersampul hijau ini kubolak-balik halaman per halaman. Di dalamnya berisi teori-teori tentang bagaimana bumi terbentuk dan seisinya. Kertas folio di sebelahku masih kosong, yang baru kutulis hanya nama lengkapku, selebihnya putih bersih. Tugas dari perkuliahan membuatku muak. Tapi tetap saja aku selalu rindu kemuakanku ini ketika libur panjang menggerogoti hari-hariku. Apalagi yang bisa membuatku makan mie ayam sebanyak kemarin kalau bukan karena tugas sialan ini?

Jarum pendek di jam tangan hitamku masih setia berada di angka dua siang. Rasa-rasanya waktu berjalan sangat lambat, waktu seakan-akan mati. Sudah saatnya makan siang, makan mie ayam lagi pengusir kegusaran saat ini. Buku-buku ini menjadi tak berguna untuk saat ini, aku tak bisa konsentrasi, entah mengapa. Rasanya kakiku ingin berjalan, bukan duduk berjam-jam seperti ini.

Buku catatan harian kupegang, mencoba bangkit dari tempat duduk, bersiap meninggalkan meja neraka ini di perpustakaan, saat sedang berdiri, ekor mata kiriku menangkap sesuatu di atas meja, firasat mengatakan ada yang tertinggal. Baiklah, aku harus balik badan dan jleb!

Kertas persegi ini kupegang antara kekuatan tanganku dan kekuatan hati, aku membaca kalimat di kertas itu berulang-ulang. Aku membaca kalimat pertama di kertas itu.

"Ketika tragedi menghampiri hidupmu, ia akan menjadikanmu ke dalam dua kondisi, yaitu trauma kemudian dewasa."

Aku membaca kalimat kedua.

"Saat cinta datang dengan tiba-tiba, apakah cinta itu juga akan pergi dengan tiba-tiba suatu saat nanti?."

Aku menelan ludah, kertas yang sedang ku pegang saat ini mulai ku kendurkan dari genggaman, di bola mataku seperti ada sesuatu. Aku membaca kalimat ketiga.

"Saat cinta datang karena terbiasa, apakah cinta itu juga akan pergi karena terbiasa? Terbiasa disakiti misalnya?."

Lututku beku, tangan kananku mencari gagang kursi, aku harus duduk, keadaan sedang tidak baik, ya Tuhan dimana bangku tadi? Aku membaca kalimat keempat.

"Saat kau mengatakan bahwa kau bahagia tanpanya, ketahuilah bahwa kau sedang berbohong dengan sangat baik. Kau takkan bisa menjatuhkan dirimu ke dalam ke pelukan seseorang secepat sekarang ini. Hatimu belum benar-benar sembuh. Terkadang, masa lalu adalah rahasia kedewasaanmu di masa depan jika kau bisa mencerna masa lalu dengan bijak. Jangan memaksakan hatimu, cukup dengarkan hatimu. Cinta seperti sepasang sepatu, katanya. Jika kau berjalan dengan sepatu yang kekecilan atau kebesaran di kakimu, kau takkan pernah merasa nyaman menapaki indahnya dunia. Begitupun cinta. Jika kau tak nyaman dengan kehadirannya, kau takkan bisa merasakan indahnya dunia. Dengarkan hatimu, dengarkan dia."

Tenggorokanku saat ini tercekat, merasa perih di dalam, perutku bergerak, bukan aku tidak jadi lapar, perutku seperti ingin mengeluarkan sesuatu, pelupuk mataku basah. Aku berharap jangan ada yang jatuh di tulang pipiku.

Sial, air mataku jatuh.

Mataku turun ke bawah kertas, mencari tahu siapa yang menulis ini dan sengaja meletakkannya di dalam buku catatanku sampai hampir tertinggal di atas meja akibat buru-buru berbenah? Siapa?

Di bawah kertas itu tertulis sebuah huruf, hanya sebuah huruf dengan tinta warna hitam mengkilap.

Dadaku sesak. Ah, sial sial sial.

Minggu, 09 Agustus 2015

Siapa yang Memulai?

Cinta sepasang sepatu?


Siapa yang menghadirkan cinta
di antara kita?
aku atau kamu?
hadir menatap malu-malu
coba tanyakan pada lagu
mengapa cinta berwarna biru?
bukan ungu atau abu-abu

Siapa yang menghadirkan rindu
di antara kita?
aku atau kamu?
jangan menangkis rindu
rindu tak bisa di adu
rindu itu hantu

Siapa yang menghadirkan luka
di antara kita?
aku atau kamu?
terbang berlalu
pergi selalu
egomu lucu
menari bebas tanpa aku
bosan membelenggu
katamu, begitu

Siapa yang menghadiahi bunga layu?
di antara kita?
aku atau kamu?
coba tanyakan pada waktu
apakah Tuhan tahu?
tak semua yang indah bisa bersatu

Senin, 20 Juli 2015

Perempuan yang Menangisi Cintanya

Bercerita panjang lebar

Dihadapan ku duduk seorang anak manusia yang sedang menggenggam erat tisunya, matanya basah. Aku selalu memanggilnya dengan sebutan sayang, "kiteng". Ya sudah jelas ditebak yang khas darinya adalah rambut keritingnya. Bukan, dia bukan laki-laki. Dia sama seperti ku, seseorang yang mempunyai perasaan yang begitu lembut, seseorang yang suatu saat nanti akan dipanggil "Ibu", seorang gadis perempuan. Dia sudah menjadi gadis, bukan lagi anak-anak. Hidupnya dipenuhi cinta dan tantangan hidup seperti di film-film drama yang sering kau tonton sampai terbayang-bayang di channel televisi kesayanganmu. Apa tadi? Matanya basah? Oh iya, aku sampai menghitung helai-helai tissuenya. Luar biasa sahabatku ini.

Sedang dia menangis, aku terus menyeruput cappucino di gelas kaca itu. Tadinya aku datang terlambat, ada urusan yang harus kukejar. Pintar sekali dia memilih tempat duduk di pojokan dekat balkon, sudah larut malam, hanya orang-orang yang sedang menghabiskan sepi atau sedang menikmati malam yang datang jam segini. Kami termasuk pelanggan yang sedang menikmati sepi. Sebelum aku sempat meletakkan tas rumbai-rumbai cokelatku di samping kursi rotan itu dan duduk dengan manis, dia sudah menghabiskan sebungkus tissue hanya untuk mengelap air matanya yang berjatuhan melewati pipi gendutnya. Yang kupikirkan pertama kali saat datang melihat keadaannya adalah bagaimana air matanya bisa sebanyak itu jatuh sedangkan aku tak bisa-bisa menangis sejak kemarin? Ya Tuhan jatuhkan air mataku juga, segera!

"Aku harus apa? Aku bisa apa?" tatapan nanarnya dileparkan ke arahku.
"Hmm..." aku tak tahu harus menjawab apa, aku hanya memperbaiki posisi dudukku.

Aku sudah tahu bagaimana kisah cintanya sejak awal hingga saat ini, aku mengerti, sangat mengerti. Bukan hanya sebagai seorang sahabat, bukan hanya sebagai seorang perempuan, tetapi aku pernah merasakan menghabiskan tissue berhelai-helai hanya untuk mengelap air mataku yang jatuh demi seseorang yang sangat berarti di hidupku. Dasar perempuan, kalau tidak uring-uringan, ya menangis sejadi-jadinya sampai tertidur.

"Jangan sampai Tuhan menegurmu dengan keras kepalamu itu." Sinisku.

"Aku harus bagaimana?" Kali ini air matanya mengalir di kedua matanya. Aku membiarkannya menangis malam ini, mungkin dengan tangisan hatinya akan lega.

"Aku mau bertanya..." Air matanya sudah surut.

"Tanya apa?" Kataku.

"Bagaimana kamu bisa berhenti menangis?" Dia menggeberak meja pelan.

Pandanganku lari ke arah jalanan, seakan-akan aku meminta izin kepada angin untuk menjawab pertanyaan sahabatku ini. Lalu segaris senyum tipis tertarik di sudut bibirku, senyum sinis sambil memainkan ligkaran gelas cappucino ku.

"Bagaimana aku bisa berhenti menangis? Entahlah, aku tak pernah tahu bagaimana bisa. Aku tak lagi menangisinya walau aku ingin" Aku menyeruput cappucino ku lagi, aku haus.

"Hhhhh..." Ia mulai menunduk lagi, aku tebak air matanya akan jatuh lagi.

"Menangislah. Aku akan menemani tangisanmu malam ini. Aku pesan satu gelas cappucino lagi, ya. Minumku habis." Mataku mencari pramusaji di dekat kasir, ah aku haus sekali.

Senin, 23 Maret 2015

Kepada Hati yang Sedang Rapuh

Kepada hati yang sedang rapuh, jangan bermain terlalu jauh, di sini saja duduk denganku.

Kepada hati yang sedang rapuh, berjalanlah terus kemana kau ingin berjalan, berlarilah sekuat yang kau mau, pergilah kemanapun kau ingin pergi.

Kepada hati yang sedang rapuh, aku tahu kamu rindu. Rindu ini tak ada apa-apanya. Kau bahkan tak ada artinya. Kerapuhanmu menyisakan sedih yang tak kunjung berakhir. Kau rindu siapa? Rindu mataharimu? Ingat, kau sedang rapuh, tak ada yang bisa kau lakukan selain duduk. Duduklah diam, jangan berlari terus. Aku lelah kau bawa lari.

Kepada hati yang sedang rapuh, menangislah ketika kau sedang dikecewakan. Menangislah seakan ini terakhir kalinya kau diberi harapan. Menangislah disaat kau kehilangan.

Kepada hati yang sedang rapuh, sejatinya kita akan selalu merasa kehilangan, suatu saat nanti. Ada yang harus menghilang untuk tahu bagaimana rasanya sesal. Ada yang harus pergi untuk tahu bagaimana rasanya perpisahan. Ada yang harus disakiti untuk tahu bagaimana rasanya ketulusan.

Kepada hati yang sedang rapuh, bergetirkah saat ini? Apa begitu rapuhkah dirimu? Hingga menunggu waktu-waktu untuk pecah?

Kepada hati yang sedang rapuh, ternyata setia saja tidak cukup untuk sebuah cinta yang telah pergi. Ternyata menunggu saja terlalu membuatmu ciut. Masih sanggupkah kau untuk bertahan dengan cinta yang tak pernah pasti? Bertahankah kau dengan cinta yang telah pergi?

Kepada hati yang sedang rapuh, aku takut kau terlalu senang berlari hingga lupa bahwa dia telah berhenti mengejarmu jauh-jauh hari.