Sabtu, 21 Juli 2012

Hujan Bulan Ini

Hujan bulan ini..
Jangan datang-datang lagi
Aku sudah patah kaki dan hati
Tak mampu menyangga kaki lagi
Terlalu pengecut melangkah jauh lagi
Disini saja kembali
Dekat-dekat sini
Kau tahu semua cerita kami?
Aku sudah memahami
Bagaimana ketika itu kami akan mati
Bertemu kemudian pergi
Sudah berhenti..
Hujan, jangan kau beradu air mata denganku lagi
Angin, jangan kau memeluk ku, menampar-nampar rambut dan jilbabku lagi
Tidak!
Tidak untuk walaupun rindu nanti
Pun ketika aku memanggil-manggil namanya lagi
Tapi tetap hati-hati
Jika sekarang benar aku masih menanti
Aku masih mencintai roti
Tak mungkin menyatu lagi
Aku sudah patah kaki dan hati
Pergilah..Jangan kembali lagi

Rabu, 18 Juli 2012

Senin

Senin...
Matamu menatapku lurus dingin
Mencoba membaca pikiranku dengan angin
Selama kau menatap ku, aku lari pada arah mata angin
Kau tahu apa yang ku ingin?
Aku padamu walau dalam wujud yang tak kau ingin, selalu begini rutin

Subuh, pagi, siang, senja, malam

Subuh...
Dalam sujud aku merengkuh do'a untuk rasa yang ku ingin utuh

Pagi...
Membuka tirai jendela
Mentatap mentari berseri
Apa kau disana sedang berdiri?
Berdua dengan dia lagi?
Atau sendiri?

Siang...
Tiba-tiba saja aku meriang
Padahal hujan tidak riang
Kau juga senang hujan kan? tempat kita mengirim rindu sayang
Sedang hujan tak juga datang
Aku berang

Senja...
Lihat langit mulai merangkak jingga
Malu merona
Mana warna yang kau sebut cinta dan setia?

Malam...
Tatap aku dalam-dalam
Detik ini air mata tak terpendam
Dulu, sekarang, mungkin akan datang, aku tetap memendam
Kau paham?

Senin, 02 Juli 2012

Kalian Berdua, Aku Satu


Kalian berdua
Aku satu tak mengapa
Kalian bersama
Aku sendiri membatu tak mengapa
Pernah kau dengar sepucuk surat menghampirimu?
Angin yang ku buatkan untukmu
Bersama hujan menghampirimu
Mengirim surat rindu yang ku titipkan lewat hujan
Melayangkan sejuta perasaan yang terasa
Pernah kau tanyakan aku?
Adakah aku padamu?
Melihat, memandang
Kebersamaan yang dulu kau buatkan untukku
Kalian menyatu
Aku sendiri terpaku