Senin, 23 Maret 2015

Kepada Hati yang Sedang Rapuh

Kepada hati yang sedang rapuh, jangan bermain terlalu jauh, di sini saja duduk denganku.

Kepada hati yang sedang rapuh, berjalanlah terus kemana kau ingin berjalan, berlarilah sekuat yang kau mau, pergilah kemanapun kau ingin pergi.

Kepada hati yang sedang rapuh, aku tahu kamu rindu. Rindu ini tak ada apa-apanya. Kau bahkan tak ada artinya. Kerapuhanmu menyisakan sedih yang tak kunjung berakhir. Kau rindu siapa? Rindu mataharimu? Ingat, kau sedang rapuh, tak ada yang bisa kau lakukan selain duduk. Duduklah diam, jangan berlari terus. Aku lelah kau bawa lari.

Kepada hati yang sedang rapuh, menangislah ketika kau sedang dikecewakan. Menangislah seakan ini terakhir kalinya kau diberi harapan. Menangislah disaat kau kehilangan.

Kepada hati yang sedang rapuh, sejatinya kita akan selalu merasa kehilangan, suatu saat nanti. Ada yang harus menghilang untuk tahu bagaimana rasanya sesal. Ada yang harus pergi untuk tahu bagaimana rasanya perpisahan. Ada yang harus disakiti untuk tahu bagaimana rasanya ketulusan.

Kepada hati yang sedang rapuh, bergetirkah saat ini? Apa begitu rapuhkah dirimu? Hingga menunggu waktu-waktu untuk pecah?

Kepada hati yang sedang rapuh, ternyata setia saja tidak cukup untuk sebuah cinta yang telah pergi. Ternyata menunggu saja terlalu membuatmu ciut. Masih sanggupkah kau untuk bertahan dengan cinta yang tak pernah pasti? Bertahankah kau dengan cinta yang telah pergi?

Kepada hati yang sedang rapuh, aku takut kau terlalu senang berlari hingga lupa bahwa dia telah berhenti mengejarmu jauh-jauh hari.